Sabtu, 13 November 2010

PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI (PE) TERHADAP KASUS PENYAKIT MALARIA, TB PARU, CAMPAK, KEMATIAN IBU, DAN LAHIR LATI/KEMATIAN BAYI

Penyelidikan Epidemiologi (PE) Penyakit Malaria

Kasus Penyelidikan Epidemiologi (PE) Malaria :
Daerah/desa endemis malaria tinggi. Desa tersebut menunjukkan angka positif malaria > 5 ‰ penduduk bayinya positif terkena malaria, dan merupakan daerah potensi KLB atau pernah terjadi KLB 2 (dua) tahun terakhir. Hal ini digambarkan dengan terjadinya perubahan lingkungan sehingga memungkinkan adanya tempat perindukan bagi nyamuk Anopheles sp. penyebab malaria, selain itu ditambah dengan bercampurnya penduduk dari daerah non endemis menuju ke daerah endemis malaria tinggi.

Tindak Lanjut Hasil PE :
a.Berdasarkan kasus tersebut, diketahui angka API (Annual Parasite Incidence) untuk prevalensi malaria menunjukkan nilai yang tinggi, yaitu > 5 ‰ penduduk bayinya positif terkena malaria, adanya potensi KLB, serta penambahan penduduk dari daerah non endemis dapat meningkatkan faktor risiko terhadap penyebaran penyakit yang meluas sampai kepada daerah non endemis, maka dapat melakukan cara pemberantasan, seperti :
Membunuh nyamuk dewasa dengan menggunakan berbagai insektisida dan pestisida, seperti : penyemprotan rumah dengan efek residual (IRS = Indoor Residual Spraying)
Membunuh jentik (tindakan anti larva) baik secara kimiawi (larvacida) maupun biologi (ikan, tumbuhan, jamur, bakteri)
Mengurangi tempat perindukan (source reduction)
Mengobati penderita malaria dengan mengetahui tahapan masing-masing stadium gejala klinis penyakit malaria
Pemberian pengobatan pencegahan (profilaksis) dan vaksinasi (masih dalam tahap riset dan clinical trial)
b.Penetapan status penggolongan penyakit malaria yang terjadi pada daerah tersebut. Apakah termasuk ke dalam golongan dari Plasmodium falciparum penyebab malaria tropika yang menyebabkan malaria berat, Plasmodium vivax penyebab malaria tertiana, Plasmodium malariae penyebab malaria quartana, ataupun Plasmodium ovale, dimana spesies ini banyak dijumpai di Afrika dan Pasifik Barat.


Cara-cara Pencegahan Malaria
1.Menghindari/mengurangi gigitan nyamuk
-Tidur pakai kelambu
-Malam hari berada di dalam rumah
-Mengobati badan dengan obat anti nyamuk
-Memakai obat nyamuk bakar atau elektrik
-Pasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi
2.Membersihkan tempat-tempat istirahat nyamuk den memberantas sarang nyamuk
-Membersihkan rumput dan semak-semak di tepi saluran air
-Melipat kain (baju) yang bergelantungan
-Mengusahakan keadaan didalam rumah tidak ada tempat yang gelap dan lembab
-Mengalirkan air yang menggenang
-Menimbun dengan tanah/pasir semua genangan di sekitar rumah
-Menjauhkan kandang ternak dari pemukiman penduduk
3.Membunuh nyamuk dewasa dengan menggunakan racun serangga seperti obat nyamuk bakar, semprot, elektrik dan indoor residual sparying (IRS) serta fogging.
4.Membunuh jentik-jentik nyamuk dengan menyebarkan ikan pemakan jentik. Seperti : Ikan kepala timah dan Ikan mujair.1

Penyelidikan Epidemiologi (PE) Penyakit TB Paru

Kasus Penyelidikan Epidemiologi (PE) TB Paru :
Di suatu daerah terdapat beberapa penderita TB Paru yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan TB Paru dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, kemudian kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif. Sebelum ada hasil uji resistensi dapat diberikan 2 RHZES/1 RHZE. Fase lanjutan sesuai dengan hasil uji resistensi. Bila tidak terdapat hasil uji resistensi dapat diberikan obat RHE selama 5 bulan.

Tindak Lanjut Hasil PE :
a.Berdasarkan analisis kasus tersebut, dapat diketahui bahwa kasus yang terjadi berupa kasus kambuh (relaps) dimana pada hasil pemeriksaan dahak menunjukkan BTA positif yang berarti penderita tersebut mempunyai penyakit TB Paru post primer. Untuk mengetahui tingkat stadium penyakit TB Paru tersebut dapat melakukan/menegakkan diagnosis klinis melalui upaya :
-Pemeriksaan Jasmani
Pada tuberkulosis paru, kelainan yang didapat tergantung luas kelainan struktur paru. Pada awal perkembangan penyakit umumnya tidak menemukan kelainan. Kelainan paru pada umumnya terletak di daerah lobus superior terutama daerah apeks dan segmen posterior, serta daerah apeks lobus inferior. Pada pemeriksaan jasmani dapat ditemukan antara lain suara napas melemah, ronki basah, tanda-tanda penarikan paru, diafragma dan mediastinum.
-Pemeriksaan Bakteriologi
Pemeriksaan bakteriologi untuk menemukan kuman tuberkulosis mempunyai arti yang sangat penting dalam menegakkan diagnosa. Bahannya dapat berasal dari dahak, cairan pleura, liquor cerebrospinal, bilasan bronkus, bilasan lambung, kurasan bronkoalveolar, urin, feses dan jaringan biopsi. Pemeriksaan bakteriologi dapat dilakukan dengan cara pemeriksaan mikroskopis dan biakan.
a. Pemeriksaan Mikroskopis
Pemeriksaan ini adalah pemeriksaan hapusan dahak mikroskopis langsung yang merupakan metode diagnosis standar. Pemeriksaan ini untuk mengidentifikasi BTA yang memegang peranan utama dalam diagnosis TB Paru. Selain tidak memerlukan biaya mahal, cepat, mudah dilakukan, akurat, pemeriksaan mikroskopis merupakan teknologi diagnostik yang paling sesuai karena mengindikasikan derajat penularan, risiko kematian serta prioritas pengobatan.
b. Pemeriksaan biakan kuman
Melakukan pemeriksaan biakan dimaksudkan untuk mendapatkan diagnosis pasti dan dapat mendeteksi mikobakterium tuberkulosis dan juga Mycobacterium Other Than Tuberculosis (MOTT).
-Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan standar ialah foto toraks. Pemeriksaan lain atas indikasi: foto
lateral, top lordotik, oblik, CT Scan. Pada pemeriksaan foto toraks, tuberkulosis dapat memberi gambaran bermacam-macam bentuk (multiform).
-Pemeriksaan BACTEC
Merupakan pemeriksaan teknik yang lebih terbaru yang dapat mengidentifikasi kuman tuberkulosis secara lebih cepat. Metode yang digunakan adalah metode radiometrik. M. Tuberkulosis metabolisme asam lemak yang kemudian menghasilkan CO2 yang akan dideteksi growth indexnya oleh mesin ini. Sistem ini dapat menjadi salah satu alternatif pemeriksaan biakan secara cepat untuk membantu menegakkan diagnosis dan melakukan uji kepekaan.
-Pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Reaction)
Pemeriksaan ini adalah teknologi canggih yang dapat mendeteksi DNA,termasuk DNA M. Tuberkulosis. Salah satu masalah dalam pelaksanaan teknik ini adalah kemungkinan kontaminasi. Hasil pemeriksaan PCR dapat membantu untuk menegakkan diagnosis sepanjang pemeriksaan tersebut dikerjakan dengan cara benar dan sesuai dengan standar internasional.
Pada tuberkulosis pasca primer, penyebaran kuman terjadi secara bronkogen, sehingga penggunaan sampel darah untuk uji PCR tidak disarankan. Sebaliknya bila sampel yang diperiksa merupakan dahak dari penderita yang dicurigai menderita tuberkulosis paru, masih ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum menggunakan PCR sebagai sarana diagnosis tuberkulosis paru.

Cara-cara Pencegahan TB Paru
Pencegahan Primer
a. Meningkatkan daya tahan tubuh dengan cara:
-Makan makanan yang mengandung 4 sehat 5 sempurna
-Usahakan setiap hari tidur cukup dan teratur
-Lakukanlah olahraga di tempat-tempat yang mempunyai udara segar.
-Meningkatkan kekebalan tubuh dengan vaksinasi BCG
b. Kebersihan Lingkungan
-Lengkapi perumahan dengan ventilasi yang cukup
-Memberi penyuluhan kepada masyarakat tentang cara-cara penularan dan pemberantasan serta manfaat penegakan diagnosa dini
-Mengurangi dan menghilangkan kondisi sosial yang meningkatkan risiko terjadinya infeksi,
Pencegahan Sekunder
a. Case finding
-X-foto toraks yang dikerjakan secara massal
-Uji tuberkulin secara Mountoux
-Bagi imigran yang datang dari negara-negara dengan prevalensi TB Paru yang tinggi dilakukan skrining dengan foto toraks, tes PPD, pemeriksaan BTA dan kultur, bekerjasama dengan WHO.
b. Perawatan khusus penderita dan mengobati penderita.
Penderita tuberkulosis yang baru didiagnosa, diberikan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) mempunyai efek sterilisasi sekaligus mempunyai efek yang dapat mencegah pertumbuhan kuman resisten seperti isoniazid (H), rifampisis (R) dan pirazinamid (Z).
Pencegahan Tertier
a.Membuat stategi menyembuhkan penderita TB Paru yaitu dengan cara pemberian paduan obat efektif dengan konsep Directly Observed Treatment Short-course (DOTS).
b.Penderita dengan initial drug resitance yang tinggi terhadap INH diberi obat etambutol karena jarang initial resitance terhadap INH. Streptomisin dapat dipakai pada populasi tertentu untuk meningkatkan complance pengobatan.3,5
c.Memberi pengobatan secara teratur dan supervisi yang ketat dalam jangka waktu 9-12 bulan pada acquired resistance (penderita kambuh setelah pengobatan).2

Penyelidikan Epidemiologi (PE) Penyakit Campak

Kasus Penyelidikan Epidemiologi (PE) Campak :

Berdasarkan hasil penyelidikan lapangan KLB campak yang dilakukan Subdit Surveilans dan Daerah pada tahun 1998-1999, kasus-kasus campak terjadi karena anak belum mendapat imunisasi cukup tinggi, mencapai sekitar 40–100 persen dan mayoritas adalah balita (>70 persen). Frekuensi KLB campak pada tahun 1994-1999 berdasarkan laporan seluruh provinsi se-Indonesia ke Subdit Surveilans, berfluktuasi dan cenderung meningkat pada periode 1998–1999: dari 32 kejadian menjadi 56 kejadian.

Tindak Lanjut Hasil PE :
a.Dari sejumlah KLB yang dilaporkan ke Subdit Surveilans, diperkirakan KLB campak sesungguhnya terjadi jauh lebih banyak. Artinya, masih banyak KLB campak yang tidak terlaporkan dari daerah dengan berbagai kendala. Walaupun frekuensi KLB campak yang dilaporkan itu mengalami peningkatan, tapi jumlah kasusnya cenderung menurun dengan rata-rata kasus setiap KLB selama 1994–1999, yaitu sekitar 15–55 kasus pada setiap kejadian. Berarti besarnya jumlah kasus setiap episode KLB campak selama periode itu, rata-rata tidak lebih dari 15 kasus. Untuk dapat menekan jumlah kasus yang terjadi tersebut, maka dapat melakukan :
-Membuat gambaran klinis melalui penegakan diagnosis dini
-Menentukan apakah terjadi komplikasi dengan penyakit lain
-Mengetahui tingkatan prognosis dari stadium perkembangan penyakit campak yang disesuaikan dengan keadaan fisiologis dan psikologis masing-masing individu penderita.

Cara-cara Pencegahan Campak
a.Pencegahan
-Imunisasi aktif.
Imunisasi campak awal dapat diberikan pada usia 12-15 bulan tetapi mungkin diberikan lebih awal pada daerah dimana penyakit terjadi (endemik). Imunisasi aktif dilakukan dengan menggunakan strain Schwarz dan Moraten. Vaksin tersebut diberikan secara subcutan dan menyebabkan imunitas yang berlangsung lama. Dianjurkan untuk memberikan vaksin morbili tersebut pada anak berumur 10 – 15 bulan karena sebelum umur 10 bulan diperkirakan anak tidak dapat membentuk antibodi secara baik karena masih ada antibodi dari ibu. Akan tetapi dianjurkan pula agar anak yang tinggal di daerah endemis morbili dan terdapat banyak tuberkulosis diberikan vansinasi pada umur 6 bulan dan revaksinasi pada umur 15 bulan. Di Indonesia saat ini masih dianjurkan memberikan vaksin morbili pada anak berumur 9 bulan ke atas.
Vaksin morbili tersebut dapat diberikan pada orang yang alergi terhadap telur. Hanya saja pemberian vaksin sebaiknya ditunda sampai 2 minggu sembuh. Vaksin ini juga dapat diberikan pada penderita tuberkulosis aktif yang sedang mendapat tuberkulosita. Akan tetapi vaksin ini tidak boleh diberikan pada wanita hamil, anak dengan tuberkulosis yang tidak diobati, penderita leukemia dan anak yang sedang mendapat pengobatan imunosupresif.
-Imunisasi pasif.
Imunisasi pasif dengan kumpulan serum orang dewasa, kumpulan serum konvalesens, globulin plasenta atau gamma globulin kumpulan plasma adalah efektif untuk pencegahan dan pelemahan campak. Campak dapat dicegah dengan menggunakan imunoglobulin serum dengan dosis 0,25 mL/kg diberikan secara intramuskuler dalam 5 hari sesudah pemajanan tetapi lebih baik sesegera mungkin. Proteksi sempurna terindikasi untuk bayi, anak dengan penyakit kronis dan untuk kontak dibangsal rumah sakit anak.
-Isolasi
Penderita rentan menghindari kontak dengan seseorang yang terkena penyakit campak dalam kurun waktu 20-30 hari, demikian pula bagi penderita campak untuk diisolasi selama 20-30 hari guna menghindari penularan lingkungan sekitar.3

Penyelidikan Epidemiologi (PE) Kematian Ibu

Kasus Penyelidikan Epidemiologi (PE) Kematian Ibu :

Estimasi AKI menggunakan pendekatan PMDF (proportion of maternal deaths of female reproductive age) tahun 1995 di lima provinsi menunjukkan bahwa Jawa Tengah mempunyai AKI yang lebih rendah, yaitu 248 per 100.000 kelahiran hidup, dibandingkan adalah Papua sebesar 1.025, Maluku sebesar 796, Jawa Barat sebesar 686, dan NTT sebesar 554 per 100.000 kelahiran hidup.

Tindak Lanjut Hasil PE :
a.Dengan membandingkan jumlah AKI di antara lima propinsi tersebut, dapat ditemukan data daerah propinsi Papua memiliki jumlah AKI sebesar 1.025, hal tersebut dapat diindikasikan bahwa jumlah pelayanan kesehatan pada daerah tersebut sangat rendah, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor baik dari faktor lingkungan internal maupun eksternal. Sehingga dapat dilakukan tindakan antara lain :
-Meningkatkan kebutuhan akses pelayanan kesehatan
-Melakukan desentralisasi bidang kesehatan
-Meningkatkan jumlah provider kesehatan di daerah-daerah
-Memajukan koordinasi dan pendanaan pembangunan kesehatan
-Merevitalisasi sarana dan prasarana bidang kesehatan
b.Sedangkan untuk daerah propinsi Jawa Tengah yang mempunyai AKI lebih rendah dari propinsi yang lain, yaitu sebesar 248, menunjukkan bahwa tingkat pelayanan kesehatan sudah memenuhi standart optimal walaupun nantinya masih dapat ditekan laju AKI menjadi lebih rendah dengan berbagai pengupayaan di bidang kesehatan, seperti halnya : upaya peningkatan tindakan preventif dan promotif untuk menurunkan jumlah AKI pada daerah tersebut.

Cara-cara Pencegahan Kematian Ibu
-Meningkatkan pelayanan kesehatan reproduksi
-Meningkatkan pemberantasan penyakit menular dan imunisasi
-Meningkatkan pelayanan kesehatan dasar dan rujukan
-Menanggulangi KEK
-Pendidikan, penggunaan kontrasepsi, dan persalinan yang aman.
-Menanggulangi anemia dengan pemberian zat gizi besi pada wanita usia subur dan pada masa kehamilan, melahirkan, dan nifas.
-Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih
-Setiap komplikasi obstetrik dan neonatal mendapatkan pelayanan yang memadai
-Setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan
-Penanganan komplikasi keguguran.4

Penyelidikan Epidemiologi (PE) Lahir Mati/Kematian Bayi

Kasus Penyelidikan Epidemiologi (PE) Lahir Mati/Kematian Bayi:

Pada 1960, Angka Kematian Bayi (AKB) Indonesia adalah 128 per 1.000 kelahiran hidup. Angka ini turun menjadi 68 per 1.000 kelahiran hidup pada 1989, 57 pada 1992 dan 46 pada 1995. Pada dekade 1990-an, rata-rata penurunan lima persen per tahun, sedikit lebih tinggi daripada dekade 1980-an sebesar empat persen per tahun. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukkan terjadinya penurunan hingga mencapai 46 per 1.000 kelahiran hidup pada periode 1998–2002. Rata-rata penurunan AKB pada dekade 1990-an adalah tujuh persen per tahun, lebih tinggi dari dekade sebelumnya, yaitu empat persen per tahun. Pada tahun 2000 Indonesia telah mencapai target yang ditetapkan dalam World Summit for Children (WSC), yaitu 65 per 1.000 kelahiran hidup.

Tindak Lanjut Hasil PE :
a.Berdasarkan hasil data tersebut dapat dinyatakan bahwa AKB dari periode dekade 1990-an mengalami penurunan yang signifikan hampir tujuh persen per tahunnya, sehingga pada tahun tahun 2000 dapat mencapai target AKB sebesar 65 sesuai dengan target WSC. Namun hal tersebut perlu dilakukan pengkajian ulang mengingat jumlah AKB pada masing-masing daerah di Indonesia masih menunjukkan nilai yang tinggi. Sehingga dapat dilakukan upaya antara lain :
-Melakukan pelaporan terhadap setiap kasus AKB yang muncul sehingga dapat ditentukan jumlah AKB secara lebih terperinci dan terkontrol pada setiap daerah
-Menentukan penyebab AKB yang berhubungan degan status kesehatan sehingga dapat ditentukan upaya kesehatan neonatal dan perinatal melalui tindakan preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif
-Menentukan pola penyebaran (distribusi) dan frekuensi prevalensi dari AKB pada tiap daerah sehingga dapat diperhitungkan pembagian pelayanan kesehatan di antara daerah yang endemis dan non endemis berisiko terhadap peningkatan jumlah AKB.

Cara-cara Pencegahan Lahir Mati/Kematian Bayi
-Meningkatkan perilaku masyarakat dan keluarga dalam menjamin kehamilan, kelahiran, dan perawatan bayi baru lahir yang lebih sehat.
-Pemberian perlindungan dan pelayanan kesehatan bagi bayi dan balita tanpa membedakan setiap lapisan golongan masyarakat
-Meningkatkan kebersihan (hygiene) dan sanitasi di tingkat individu, keluarga, dan masyarakat melalui penyediaan air bersih, meningkatkan kepedulian terhadap kelangsungan dan perkembangan dini anak
-Pemberantasan penyakit menular dan meningkatkan cakupan imunisasi
-Meningkatkan pelayanan kesehatan reproduksi termasuk pelayanan kontrasepsi bagi ibu
-Menanggulangi gizi buruk, Kurang Energi Kronik (KEK) dan anemia, serta promosi pemberian ASI ekslusif dan pemantauan pertumbuhan. pelayanan kesehatan dasar
-Rujukan gratis bagi ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi untuk keluarga miskin/tidak mampu
-Pemberian bantuan pembangunan sarana dan prasarana bidang kesehatan sehingga dapat meningkatkan akses pelayanan kesehatan.5

REFERENSI
1. Lazuardi Ansori. Bahaya Malaria dan Pencegahannya. http://kesehatan.kompasiana.com/group/medis/2010/06/15/bahaya-malaria-dan pencegahannya/. Diakses pada 7 November 2010
2. Depkes, R.I. 2004. TB Paru di Indonesia. http://www.penyakitmenular.info. Diakses pada 7 November 2010.
3. Depkes, R.I. 2004. Campak di Indonesia. http://www.penyakitmenular.info. Diakses pada 7 November 2010.
4. Departemen Kesehatan RI. 2001. Rencana Strategis Nasional ”Making Pregnancy Safer” di Indonesia 2001–2010. Jakarta.
5. UNICEF. 2000. The State of the World’s Children 2000. New York.

FKM UNDIP



UNDIP

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar